Persoalan genangan air dan penumpukan limbah organik di wilayah perkotaan sering kali menjadi pemicu masalah kesehatan lingkungan yang kompleks. Di Jambi, tantangan ini dijawab oleh para ahli kesehatan lingkungan melalui pemasyarakatan sebuah metode yang sederhana namun sangat efektif. HAKLI Jambi secara aktif memperkenalkan penggunaan lubang resapan yang tidak hanya berfungsi sebagai pengendali air hujan, tetapi juga sebagai media pengolahan sampah mandiri di tingkat rumah tangga. Inovasi ini dikenal luas sebagai lubang Teknik Biopori, sebuah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai lubang resapan untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
Prinsip kerja dari sistem ini sebenarnya sangat alami. Dengan membuat lubang berdiameter sekitar 10 sentimeter dengan kedalaman hingga satu meter, kita sebenarnya sedang memicu aktivitas organisme tanah. HAKLI Jambi menekankan bahwa lubang ini harus diisi dengan sampah organik dapur seperti sisa sayuran dan kulit buah. Sampah yang dimasukkan ke dalam lubang ini akan menjadi sumber makanan bagi cacing tanah dan mikroba lainnya. Saat makhluk hidup ini bergerak mencari makan di dalam lubang, mereka akan membentuk terowongan-terowongan kecil di dalam tanah yang secara otomatis meningkatkan luas bidang resapan air secara signifikan.
Manfaat ganda dari metode ini adalah kemampuannya menjadi sebuah Komposter alami di halaman rumah. Masyarakat seringkali bingung bagaimana cara mengolah sampah dapur tanpa menimbulkan bau. Dalam teknik ini, sampah yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan mengalami proses dekomposisi secara anaerobik dan aerobik secara bergantian. Setelah beberapa bulan, sampah tersebut akan berubah menjadi kompos berkualitas tinggi yang bisa dipanen untuk menyuburkan tanaman. Proses ini sangat efisien karena tidak memerlukan lahan luas, sehingga sangat cocok diterapkan di pemukiman padat penduduk yang ada di wilayah Jambi dan sekitarnya.
Selain mengolah sampah padat, teknologi ini juga bisa diadaptasi untuk menangani masalah Air Limbah domestik non-kakus dalam volume kecil. Dengan adanya lubang-lubang ini di sekitar area pembuangan, air sisa cucian yang tidak mengandung bahan kimia berat dapat terserap lebih cepat ke dalam tanah alih-alih mengalir ke jalanan dan menjadi genangan. Hal ini sangat penting untuk mencegah terjadinya erosi permukaan tanah dan menjaga ketersediaan air tanah di musim kemarau. Penggunaan Teknik ini secara masif oleh warga akan sangat membantu pemerintah kota dalam mengurangi beban saluran drainase utama yang seringkali meluap saat intensitas hujan tinggi.