Sejarah microplastik sebagai isu lingkungan modern tidaklah sepanjang sejarah plastik itu sendiri. Meskipun plastik mulai diproduksi massal pada pertengahan abad ke-20, kesadaran akan fragmen kecilnya baru muncul jauh kemudian. Ini adalah kisah tentang bagaimana ilmuwan mulai mengungkap masalah tak terlihat ini.
Penelitian awal mengenai polusi plastik di lautan sudah ada sejak tahun 1960-an. Namun, fokus utamanya masih pada sampah plastik berukuran besar yang terlihat jelas. Gagasan tentang partikel mikro belum menjadi perhatian utama para peneliti saat itu.
Titik balik penting dalam sejarah microplastik terjadi pada awal tahun 1970-an. Ilmuwan Amerika Serikat, Edward J. Carpenter, menerbitkan studi tentang partikel plastik kecil yang mengambang di permukaan Samudra Atlantik. Ini adalah salah satu publikasi pertama yang secara eksplisit menyebutkan “pellets” plastik.
Pada saat yang hampir bersamaan, pada tahun 1970-an, ilmuwan Inggris, Professor Richard Thompson, melakukan penelitian serupa. Ia menemukan fragmen-fragmen plastik kecil di pantai dan menyebutnya sebagai “microplastics” pada tahun 2004. Istilah inilah yang akhirnya menjadi populer.
Penelitian Thompson pada tahun 2004, yang diterbitkan di jurnal Science, adalah tonggak penting. Studinya secara jelas mendefinisikan microplastik sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter dan menyoroti prevalensinya di lingkungan laut. Ini membuka mata banyak pihak.
Sejak saat itu, jumlah penelitian tentang microplastik melonjak drastis. Para ilmuwan mulai menemukan microplastik tidak hanya di lautan, tetapi juga di air tawar, tanah, udara, dan bahkan dalam makanan serta air minum kita sehari-hari.
Kesadaran publik akan masalah ini mulai meningkat pesat di tahun 2010-an. Berbagai laporan media, film dokumenter, dan kampanye lingkungan menyoroti bahaya microplastik, terutama yang berasal dari microbeads dalam produk perawatan pribadi.
Pada tahun 2015, Amerika Serikat menjadi negara pertama yang melarang penggunaan microbeads dalam produk kosmetik dan perawatan pribadi melalui Microbead-Free Waters Act. Ini menandai babak baru dalam sejarah microplastik dan upaya regulasinya.
Negara-negara lain, termasuk Inggris, Kanada, dan sebagian besar Uni Eropa, mengikuti jejak ini dengan melarang microbeads. Larangan ini menunjukkan pengakuan global atas ancaman yang ditimbulkan oleh microplastik primer ini.