Sampah di Pengungsian Jambi: Kelola dengan Prinsip 3R

Penanganan masalah sampah di pengungsian menuntut kerja sama yang solid antara petugas relawan dan para pengungsi itu sendiri. Di wilayah Sumatra bagian tengah, khususnya saat menghadapi ancaman banjir atau kebakaran hutan, koordinasi antar instansi terus diperkuat untuk menyediakan fasilitas pembuangan yang memadai. Tantangan di Jambi sering kali diperberat oleh akses logistik yang terhambat, sehingga tumpukan sisa kemasan makanan instan dan botol plastik dapat menggunung dalam hitungan hari. Jika tidak segera ditangani, sampah-sampah ini akan mengundang vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan kecoa yang dapat memicu kejadian luar biasa (KLB) diare maupun penyakit kulit di barak-barak penampungan yang sempit.

Strategi yang paling efektif untuk menekan volume buangan di lokasi bencana adalah dengan mengajak warga untuk kelola dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan ini dimulai dengan upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam pendistribusian bantuan logistik. Relawan didorong untuk menggunakan wadah yang dapat dicuci ulang daripada styrofoam yang sulit terurai. Selain itu, kegiatan pemilahan sampah organik dan anorganik harus dilakukan sejak dari sumbernya di tenda-tenda pengungsian. Edukasi praktis diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa agar mereka memahami bahwa lingkungan yang bersih akan membuat mereka lebih cepat pulih dari trauma bencana tanpa harus dibebani oleh masalah kesehatan tambahan.

Penerapan konsep 3R di lokasi pengungsian juga dapat memberikan manfaat psikologis bagi warga. Melibatkan pengungsi dalam kegiatan kreatif seperti mengolah sampah plastik menjadi kerajinan tangan sederhana atau alat bantu darurat dapat menjadi sarana trauma healing yang efektif. Sampah organik yang dihasilkan dari dapur umum dapat dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos cair yang nantinya bisa dibawa pulang saat warga kembali ke rumah masing-masing. Dengan cara ini, warga tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi aktif menjadi subjek yang menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal sementara mereka. Kebiasaan baik yang terbentuk di pengungsian diharapkan akan terbawa menjadi pola hidup baru yang lebih ramah lingkungan saat masa darurat berakhir.

Pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana terus berupaya menyediakan tempat sampah terpilah di setiap sudut kamp pengungsian. Pengangkutan rutin ke tempat pembuangan akhir harus tetap terjaga jadwalnya agar tidak terjadi penumpukan yang menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, aspek sanitasi seperti ketersediaan air bersih dan sabun untuk cuci tangan harus terintegrasi dengan lokasi pembuangan sampah. Sinergi antara kebersihan diri dan kebersihan lingkungan adalah benteng pertahanan terkuat bagi para pengungsi. Masyarakat Jambi yang dikenal dengan semangat gotong royongnya diharapkan mampu menunjukkan disiplin tinggi dalam menjaga kebersihan fasilitas publik darurat demi kebaikan bersama.