Masalah polusi udara tidak hanya terbatas pada asap kendaraan atau debu industri, namun juga mencakup aroma tidak sedap yang sering kali mengganggu kenyamanan publik. Di wilayah Jambi, isu mengenai aroma limbah domestik maupun industri menjadi perhatian serius bagi para praktisi kesehatan lingkungan. Salah satu organisasi yang bergerak cepat dalam menangani fenomena ini adalah Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Jambi. Fokus utama mereka saat ini adalah menekan dampak buruk dari polusi bau yang jika dibiarkan dapat menurunkan kualitas hidup serta kesehatan mental masyarakat sekitar.
Aroma tidak sedap yang muncul dari tumpukan sampah atau saluran limbah sering kali mengandung gas-gas seperti amonia dan hidrogen sulfida. Untuk mengatasi hal ini secara berkelanjutan, HAKLI Jambi memperkenalkan solusi inovatif yang ramah lingkungan dan murah biaya, yakni penggunaan eco-enzim. Cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik ini terbukti efektif dalam memutus rantai bakteri pembusuk dan menetralkan bau menyengat di udara. Langkah ini diambil sebagai bentuk edukasi bahwa penanganan limbah tidak harus selalu menggunakan bahan kimia sintetis yang berpotensi merusak ekosistem dalam jangka panjang.
Pemanfaatan eco-enzim dalam skala besar membutuhkan ketelatenan dalam proses pembuatannya. HAKLI mengajak masyarakat untuk mulai mengolah sisa kulit buah dan sayuran di rumah tangga masing-masing. Dengan mencampurkan limbah organik, gula merah atau molase, serta air dengan perbandingan tertentu, dihasilkan cairan yang kaya akan enzim fungsional. Cairan inilah yang kemudian disemprotkan ke titik-titik sumber bau. Hasilnya, molekul penyebab bau akan terurai secara organik, sehingga udara kembali menjadi segar tanpa meninggalkan residu berbahaya.
Keberhasilan program di Jambi ini menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengelola aroma limbah secara mandiri. Tantangan terbesar dalam masalah sanitasi adalah mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar “membuang sampah” menjadi “mengelola sampah”. Melalui demonstrasi plot dan pendampingan rutin, para ahli kesehatan lingkungan menunjukkan bahwa limbah cair dari pasar tradisional atau area pemukiman padat dapat dikendalikan baunya hanya dengan bahan-bahan yang ada di dapur kita sendiri.