Netralisir Air Gambut: HAKLI Jambi Uji Filtrasi Lahan Basah

Provinsi Jambi memiliki karakteristik geografis yang didominasi oleh lahan basah dan hamparan gambut yang luas. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mengakses sumber air bersih yang layak konsumsi. Air gambut secara alami memiliki warna cokelat kemerahan yang pekat, tingkat keasaman (pH) yang sangat tinggi, serta kandungan zat organik yang kompleks. Menanggapi permasalahan ini, HAKLI wilayah Jambi melakukan serangkaian riset terapan dan pengujian lapangan untuk menemukan metode paling efektif guna Netralisir Air Gambut. Fokus dari kegiatan ini adalah memberdayakan masyarakat melalui teknologi Filtrasi Lahan Basah yang ekonomis dan mudah direplikasi di pemukiman terpencil.

Air gambut yang belum diolah tidak disarankan untuk digunakan dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari karena dapat menyebabkan masalah kulit dan korosi pada peralatan logam. Lebih jauh lagi, jika dikonsumsi tanpa pengolahan yang benar, kandungan asam humat dalam air tersebut dapat mengganggu sistem pencernaan dan penyerapan mineral dalam tubuh. HAKLI di Jambi melakukan Uji coba terhadap berbagai media filter alami yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti pasir silika, arang batok kelapa, kerikil, dan serabut kelapa. Kombinasi media ini dirancang untuk menurunkan intensitas warna, menaikkan kadar pH hingga mendekati netral, serta mengikat partikel organik yang terlarut.

Dalam proses pengembangannya, tenaga kesehatan lingkungan dari HAKLI Jambi menekankan pentingnya proses koagulasi sederhana menggunakan bahan seperti biji kelor atau kapur sirih sebelum air dimasukkan ke dalam tabung filtrasi. Metode ini terbukti mampu mengendapkan partikel koloid yang selama ini sulit dipisahkan dari air gambut. Melalui pengujian berkala di laboratorium lapangan, para ahli memastikan bahwa output dari sistem filtrasi ini memenuhi standar kualitas air minum yang aman sesuai peraturan menteri kesehatan. Program ini menjadi jawaban nyata bagi warga yang selama ini bergantung pada air hujan atau air parit gambut yang tidak sehat.

Implementasi teknologi ini di wilayah Jambi juga disertai dengan pendampingan intensif kepada warga mengenai pemeliharaan alat. Masyarakat diajarkan cara melakukan pencucian balik (backwash) pada media filter agar daya serapnya tetap optimal. HAKLI menyadari bahwa solusi teknologi hanya akan berhasil jika ada rasa kepemilikan dan pemahaman dari pengguna. Dengan memanfaatkan karakteristik Lahan Basah sebagai sumber belajar, warga diedukasi untuk menjaga kelestarian area resapan gambut agar kualitas air bakunya tidak semakin memburuk akibat kebakaran lahan atau pencemaran limbah cair dari perkebunan besar.