Lindungi Pernapasan dari Partikel Halus Akibat Kebakaran

Salah satu instruksi paling mendasar yang disosialisasikan adalah mengenai cara lindungi pernapasan agar tidak terpapar langsung oleh udara yang sudah terkontaminasi. Tim ahli menekankan bahwa asap yang kita lihat bukan sekadar gangguan penglihatan, melainkan kumpulan zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Penggunaan masker standar medis, terutama tipe N95, sangat dianjurkan karena kemampuannya yang lebih baik dalam menyaring kotoran di udara dibandingkan masker kain biasa. Pencegahan ini sangat krusial bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, serta lansia yang memiliki riwayat penyakit asma atau jantung.

Bahaya utama yang menjadi sorotan HAKLI adalah keberadaan partikel halus yang dikenal dengan istilah PM2.5. Partikel ini berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, jauh lebih kecil dari diameter rambut manusia, sehingga memiliki kemampuan untuk menembus masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru (alveoli) dan masuk ke dalam aliran darah. Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, dan sesak napas akut. Sedangkan dalam jangka panjang, akumulasi partikel ini dapat memicu penyakit paru obstruktif kronis, serangan jantung, hingga kanker paru-paru. Oleh karena itu, membatasi aktivitas di luar ruangan saat indeks standar pencemaran udara (ISPU) menunjukkan kategori tidak sehat adalah hal wajib.

Kondisi udara yang memburuk akibat kebakaran lahan juga menuntut adanya perbaikan sanitasi di dalam rumah. HAKLI Jambi menyarankan warga untuk menjaga kelembapan udara di dalam ruangan dengan menggunakan alat penjernih udara atau menaruh handuk basah di ventilasi untuk membantu menyerap debu asap yang masuk. Warga juga diingatkan untuk tidak menambah polusi di dalam rumah dengan cara tidak merokok, tidak menyalakan lilin secara berlebihan, dan tidak menyapu lantai dengan cara yang membuat debu berterbangan (disarankan menggunakan pel basah). Lingkungan dalam ruangan harus diupayakan sebersih mungkin sebagai benteng pertahanan terakhir keluarga.

Dukungan dari pemerintah daerah dalam melakukan pemantauan kualitas udara secara real-time sangat membantu kerja HAKLI di lapangan. Dengan data yang akurat, masyarakat dapat mengetahui kapan waktu yang paling berbahaya untuk keluar rumah. Selain itu, pemberian edukasi mengenai asupan nutrisi juga dilakukan. Masyarakat diminta untuk mengonsumsi lebih banyak air putih dan makanan yang kaya akan antioksidan seperti buah-buahan dan sayuran guna membantu tubuh menangkal radikal bebas yang dibawa oleh asap. Kesadaran kolektif untuk saling menjaga kesehatan di tengah kabut asap adalah kunci agar tidak terjadi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang masif di wilayah Jambi.