Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki ekosistem lahan gambut yang sangat luas. Namun, setiap tahunnya, tantangan lingkungan yang paling mendesak di wilayah ini adalah fenomena kabut asap yang muncul akibat Kebakaran Lahan. Kejadian ini tidak hanya merusak biodiversitas dan ekosistem lokal, tetapi juga menyebabkan penurunan drastis pada Kualitas Udara yang dihirup oleh masyarakat. Ancaman yang paling nyata dan berbahaya bagi kesehatan manusia dari peristiwa ini bukanlah asap yang terlihat secara visual semata, melainkan keberadaan materi Partikulat halus yang melayang di atmosfer dalam konsentrasi yang sangat tinggi.
Secara teknis, Partikulat yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan terdiri dari berbagai campuran kompleks partikel padat dan titik-titik cairan. Yang paling menjadi perhatian dalam dunia kesehatan lingkungan adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Sebagai perbandingan, ukuran ini jauh lebih kecil daripada diameter sehelai rambut manusia. Karena ukurannya yang mikroskopis, partikel ini tidak dapat disaring oleh bulu hidung manusia. Saat warga di Jambi terpapar kabut asap, partikulat ini masuk jauh ke dalam sistem pernapasan, mencapai alveoli di paru-paru, dan bahkan dapat menembus sistem peredaran darah, yang memicu reaksi peradangan sistemik di seluruh tubuh.
Dampak terhadap kesehatan warga akibat memburuknya Kualitas Udara ini sangatlah serius. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis seperti asma atau bronkitis. Selama periode Kebakaran Lahan, angka kunjungan ke Puskesmas dan Rumah Sakit di Jambi biasanya mengalami lonjakan signifikan terkait kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Paparan jangka pendek terhadap konsentrasi Partikulat yang tinggi dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, dan batuk kering. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya, yang dapat menurunkan fungsi paru-paru secara permanen dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta kanker paru-paru.
Sains di balik pemantauan Kualitas Udara di Jambi menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai acuan bagi masyarakat. ISPU mengukur lima polutan utama, namun selama kejadian Kebakaran Lahan, parameter PM10 dan PM2.5 biasanya menjadi kontributor utama yang mendorong indeks ke kategori “Sangat Tidak Sehat” hingga “Berbahaya”. Masyarakat seringkali melihat langit yang menguning atau memerah, sebuah fenomena hamburan cahaya yang disebabkan oleh padatnya konsentrasi Partikulat di atmosfer. Kondisi ini menuntut langkah mitigasi yang cepat, seperti penggunaan masker respirator N95 yang mampu menyaring partikel halus, karena masker kain biasa seringkali tidak efektif menghadapi partikulat berukuran mikron.