Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah yang sering kali terdampak oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Saat angka ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) menyentuh level berbahaya, risiko kesehatan bagi masyarakat meningkat secara drastis, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut hingga gangguan paru kronis. Sayangnya, tidak semua lapisan masyarakat memiliki akses atau kemampuan finansial untuk membeli alat pembersih udara pabrikan yang harganya cukup tinggi di pasaran. Menanggapi situasi darurat ini, Hakli Jambi turun ke lapangan untuk memberikan edukasi mengenai pemanfaatan teknologi tepat guna guna melindungi kesehatan paru-paru warga di dalam ruangan.
Memahami bahwa perlindungan kesehatan tidak boleh terbatas pada golongan ekonomi tertentu, para ahli kesehatan lingkungan mengembangkan cara buat ‘air purifier’ murah yang dapat dirakit sendiri oleh warga menggunakan bahan-bahan sederhana. Komponen utamanya adalah kipas angin yang sudah dimiliki oleh hampir setiap rumah tangga dan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air) atau filter karbon aktif yang bisa dibeli dengan harga terjangkau di toko daring. Prinsip kerjanya cukup sederhana: filter ditempelkan pada bagian belakang kipas angin sehingga udara yang ditarik oleh bilah kipas akan tersaring terlebih dahulu sebelum dihembuskan kembali ke dalam ruangan.
Metode filtrasi mandiri ini terbukti efektif dalam menurunkan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di dalam rumah secara signifikan. Hakli Jambi menekankan bahwa meski alat ini terlihat sederhana, kemampuannya dalam menyaring debu dan asap sangat membantu menciptakan zona aman di dalam hunian saat kualitas udara di luar sangat buruk. Selain filter fisik, masyarakat juga diajarkan untuk menjaga kerapatan pintu dan jendela agar polutan tidak terus menerus masuk. Dengan modal yang sangat minim, warga dapat memiliki sistem filtrasi udara yang mampu bekerja selama 24 jam untuk melindungi anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia yang paling rentan terhadap paparan asap.
Kreativitas dalam menghadapi bencana lingkungan adalah kunci ketahanan masyarakat. Melalui kampanye yang dilakukan oleh Hakli Jambi, masyarakat tidak lagi merasa tidak berdaya saat asap mulai mengepung kota. Selain edukasi alat, para ahli juga memberikan panduan mengenai kapan filter tersebut harus diganti dan bagaimana cara membersihkan area sekitar kipas agar debu yang tersaring tidak kembali beterbangan. Inovasi ini merupakan bentuk nyata dari keberpihakan ahli kesehatan lingkungan terhadap masyarakat menengah ke bawah yang sering kali menjadi korban pertama dari penurunan kualitas udara akibat perubahan iklim dan aktivitas pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab.