Masalah pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar di wilayah perkotaan, termasuk di Jambi. Salah satu kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan oleh masyarakat karena dianggap praktis adalah memusnahkan sampah dengan cara membakarnya secara langsung di pekarangan atau lahan kosong. Melihat fenomena ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Jambi mengambil langkah tegas dengan melakukan sosialisasi masif mengenai bahaya pembakaran sampah terbuka. Praktik ini bukan hanya merusak estetika kota, tetapi juga menjadi penyumbang utama penurunan kualitas udara yang dihirup oleh ribuan warga setiap harinya.
Secara ilmiah, sampah yang dibakar secara terbuka tidak mencapai suhu yang cukup tinggi untuk memusnahkan partikel berbahaya. Sebaliknya, proses pembakaran yang tidak sempurna ini melepaskan berbagai zat kimia beracun seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, serta senyawa dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker. HAKLI Jambi menekankan bahwa polusi udara yang dihasilkan dari asap pembakaran sampah dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan manusia, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma. Kabut asap tipis yang sering terlihat di sudut-sudut kota pada pagi atau sore hari seringkali merupakan akumulasi dari praktik pembuangan sampah yang salah ini.
Selain dampak kesehatan jangka pendek seperti iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), polutan dari asap sampah juga berdampak pada lingkungan secara lebih luas. Partikel jelaga atau black carbon yang dihasilkan berkontribusi pada pemanasan global dan dapat merusak lapisan ozon di atmosfer. HAKLI Jambi mengedukasi masyarakat bahwa satu tumpukan kecil sampah plastik yang dibakar memiliki potensi bahaya yang jauh lebih besar daripada yang terlihat secara kasat mata. Oleh karena itu, penghentian total praktik pembakaran sampah di area pemukiman merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang sehat dan layak huni bagi semua lapisan masyarakat.
Sebagai solusi alternatif, HAKLI mendorong penguatan sistem bank sampah dan pengolahan limbah berbasis komunitas. Masyarakat diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman, sementara sampah anorganik yang bernilai ekonomis dapat disalurkan ke fasilitas daur ulang. Dengan memutus kebiasaan pembakaran sampah, volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) juga dapat dikelola dengan lebih sistematis tanpa harus mencemari udara perkotaan. Sosialisasi ini juga mencakup pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyediakan sarana transportasi sampah yang terjadwal hingga ke tingkat rukun tetangga.