Kualitas bahan pangan yang dibeli di pasar tradisional sangat menentukan status kesehatan keluarga secara keseluruhan. Sebagai salah satu komoditas utama, daging sapi maupun kambing sering kali menjadi perhatian karena kerentanannya terhadap kontaminasi bakteri jika tidak ditangani dengan benar. HAKLI Jambi melalui program edukasi sanitasi pangan menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk memahami kualitas daging secara visual dan fisik. Kesadaran ini bukan hanya soal mendapatkan rasa masakan yang lezat, tetapi untuk mencegah risiko keracunan makanan yang disebabkan oleh produk yang mulai membusuk atau tidak segar.
Pentingnya Memeriksa Tekstur Secara Langsung
Salah satu indikator utama yang paling mudah dilakukan oleh konsumen adalah dengan memeriksa bagian daging melalui sentuhan atau pengamatan tekstur. HAKLI Jambi menjelaskan bahwa produk yang segar memiliki konsistensi yang kenyal. Jika Anda menekan permukaan tersebut dengan jari, bagian yang ditekan akan segera kembali ke bentuk semula (elastis). Hal ini menunjukkan bahwa serat otot masih memiliki kadar air dan protein yang stabil, serta belum mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroba.
Sebaliknya, konsumen harus waspada jika menemukan daging yang terasa lembek, berlendir, atau ketika ditekan tidak kembali ke bentuk asalnya. Tekstur yang lembek dan berlendir merupakan tanda awal bahwa bakteri pembusuk telah mulai memecah jaringan ikat. Lendir yang menempel di tangan menunjukkan bahwa populasi mikroba sudah berada pada tingkat yang berbahaya untuk dikonsumsi. Selain itu, hindari produk yang memiliki permukaan terlalu kering atau kaku, karena bisa jadi itu adalah stok lama yang sudah terpapar udara luar terlalu lama tanpa pendinginan yang cukup.
Mengenali Warna dan Aroma yang Sehat
Selain dari segi tekstur, warna merupakan poin SEO friendly yang sangat penting dalam mengidentifikasi kesegaran. Daging sapi yang segar seharusnya berwarna merah cerah dan mengkilap, bukan merah pucat atau kecokelatan. Warna merah cerah ini dihasilkan oleh protein mioglobin yang berikatan dengan oksigen. Jika warna sudah berubah menjadi keabu-abuan atau bahkan kehijauan di sela-sela seratnya, itu adalah sinyal mutlak bahwa proses pembusukan kimiawi sedang terjadi.
Aroma juga menjadi kunci dalam pengecekan kualitas. Produk yang sehat memiliki aroma khas “anyir” darah yang segar namun tidak menyengat. HAKLI Jambi mengingatkan agar masyarakat tidak ragu untuk mencium aroma produk sebelum membeli. Jika tercium bau asam, bau busuk yang tajam, atau bau amonia, maka produk tersebut dipastikan sudah tidak layak konsumsi. Bau asam muncul akibat fermentasi bakteri yang menghasilkan asam laktat, yang biasanya terjadi jika suhu penyimpanan di pasar tradisional tidak terjaga di bawah 4 derajat Celsius.