Kenaikan suhu global telah mendorong kita ke dalam Gawat Darurat Iklim, di mana konsekuensi ekologis yang paling parah terlihat di lautan dunia. Ekosistem laut, yang merupakan penyangga utama kehidupan di Bumi, kini menghadapi tekanan ganda dari pemanasan air dan pengasaman yang mengancam kelangsungan seluruh rantai makanan laut. Rantai makanan yang rapuh ini bermula dari organisme mikroskopis hingga predator puncak, dan keruntuhan di salah satu tingkatan dapat memicu efek domino yang menghancurkan. Data yang dirilis oleh Oceanographic Research Institute pada 15 Mei 2025 menunjukkan bahwa rata-rata suhu permukaan laut telah meningkat sebesar 0.8∘C sejak era pra-industri, sebuah perubahan yang cukup untuk mengganggu reproduksi dan migrasi spesies laut, memperparah kondisi Gawat Darurat Iklim global.
Ancaman terbesar pada rantai makanan laut dimulai dari dasar: plankton. Fitoplankton adalah produsen primer yang menghasilkan sekitar 50% oksigen dunia dan menjadi makanan utama bagi zooplankton dan organisme laut kecil lainnya. Namun, peningkatan suhu air mengganggu waktu mekar (blooming) fitoplankton dan mengubah komposisi spesiesnya, seringkali menggantikannya dengan spesies yang kurang bergizi. Perubahan ini secara langsung berdampak pada zooplankton, yang merupakan konsumen tingkat pertama. Dampaknya terbukti signifikan: sebuah studi di Samudra Hindia, yang diterbitkan pada 12 Februari 2025, mencatat penurunan biomassa zooplankton hingga 40% di beberapa area dalam dua dekade terakhir. Penurunan drastis pada dasar rantai makanan ini memperparah Gawat Darurat Iklim dan secara langsung mengurangi ketersediaan makanan bagi ikan komersial dan mamalia laut.
Selain pemanasan, penyerapan karbon dioksida (CO2) berlebih oleh lautan menyebabkan pengasaman laut (ocean acidification). Penurunan pH air laut ini secara spesifik mengancam organisme yang membangun cangkang dan kerangka dari kalsium karbonat, seperti terumbu karang, tiram, dan kerang. Terumbu karang, yang merupakan habitat vital bagi seperempat kehidupan laut, mengalami pemutihan (bleaching) dan kesulitan pertumbuhan. Kehancuran terumbu karang berarti hilangnya tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi banyak spesies ikan, yang pada akhirnya memutus mata rantai predator-mangsa. Pada tahun 2024, Kepolisian Perairan (Polair) setempat juga mengeluarkan peringatan tentang peningkatan kasus penangkapan ikan ilegal di sekitar kawasan terumbu karang yang rusak, karena nelayan mencari sumber daya yang semakin langka akibat dampak Gawat Darurat Iklim.
Efek kumulatif dari suhu tinggi dan pengasaman mencapai puncaknya pada predator puncak, termasuk ikan tuna, hiu, dan mamalia laut, yang harus bermigrasi lebih jauh untuk mencari makanan. Migrasi massal ini mengganggu ekosistem perairan dan membebani industri perikanan. Tindakan global yang tegas, seperti mengurangi emisi karbon secara drastis dan menetapkan zona perlindungan laut yang lebih luas, adalah satu-satunya Strategi Global Melawan Ancaman Pemanasan yang dapat mencegah keruntuhan total rantai makanan laut dan menstabilkan ekosistem esensial ini. Kegagalan berarti hilangnya bukan hanya keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber makanan vital bagi miliaran manusia.