Diskusi HAKLI Jambi: Pemanfaatan Lahan Tanpa Membakar Guna Cegah Polusi

Provinsi Jambi secara historis merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Dampak dari bencana ini tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga menimbulkan krisis kesehatan masyarakat yang luar biasa akibat penurunan kualitas udara. Mengatasi akar permasalahan ini memerlukan perubahan paradigma di tingkat akar rumput mengenai cara mengelola lahan. HAKLI Jambi mengambil inisiatif untuk memfasilitasi dialog konstruktif bersama para petani dan pemilik Pemanfaatan Lahan Tanpa Membakar guna mencari solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Dalam sesi diskusi HAKLI Jambi tersebut, ditekankan bahwa praktik pembukaan lahan dengan api merupakan cara instan yang membawa konsekuensi jangka panjang yang sangat merugikan. Api seringkali sulit dikendalikan dan merembet ke area gambut yang memiliki kedalaman besar, sehingga sulit untuk dipadamkan dan melepaskan emisi karbon yang masif ke atmosfer. Para ahli kesehatan lingkungan memberikan pemahaman bahwa asap dari kebakaran lahan mengandung partikel halus (PM2.5) yang dapat menembus sistem pernapasan manusia dan menyebabkan penyakit paru kronis, terutama pada anak-anak dan lansia.

Fokus utama dari pertemuan ini adalah memberikan edukasi mengenai metode Pemanfaatan Lahan Tanpa Membakar secara produktif tanpa mengandalkan pembakaran. Ada berbagai teknik mekanis dan biologis yang bisa diterapkan, seperti penggunaan alat berat sederhana untuk pembersihan lahan atau metode pencacahan sisa tanaman untuk dijadikan kompos alami. Meskipun metode ini memerlukan tenaga dan waktu yang lebih banyak di awal, namun kualitas tanah dalam jangka panjang akan jauh lebih subur dibandingkan tanah yang hangus terbakar. Tanah yang terbakar justru kehilangan unsur hara penting dan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Konsep mengelola lahan tanpa membakar merupakan bagian dari komitmen global untuk menjaga keseimbangan iklim dan keanekaragaman hayati. Siswa sekolah pertanian dan komunitas petani diajak untuk melihat potensi ekonomi dari limbah kayu dan dedaunan yang selama ini dianggap sampah. Bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti biochar atau pupuk organik cair yang justru bisa menekan biaya produksi pertanian. Inovasi semacam ini menjadi kunci transisi menuju pertanian berkelanjutan yang tetap menguntungkan namun tidak merusak alam sekitar.