Jambi, sebagai salah satu provinsi yang sering menjadi langganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), secara rutin terpapar Kabut Asap tebal yang membawa konsekuensi kesehatan jangka panjang yang serius. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) cabang Jambi telah menyusun data kesehatan pasca-Karhutla dan mengeluarkan Rekomendasi HAKLI strategis untuk memitigasi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh paparan polutan kronis dari Kabut Asap. Fokus utama adalah melindungi kelompok rentan dan memulihkan kualitas lingkungan.
Data yang dikumpulkan HAKLI Jambi menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan asma, bukan hanya selama puncak Kabut Asap tetapi juga beberapa bulan setelahnya. Yang lebih mengkhawatirkan, studi HAKLI menyoroti potensi dampak jangka panjang dari paparan partikel halus (PM2.5) dari Kabut Asap, yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan fungsi paru permanen, hingga komplikasi kehamilan. Partikel halus ini mampu menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah, menjadikannya ancaman kesehatan lingkungan yang bersifat tersembunyi.
Untuk menangani risiko yang diakibatkan oleh Kabut Asap, Rekomendasi HAKLI Jambi mencakup dua dimensi: respons kesehatan dan intervensi lingkungan. Dari sisi respons kesehatan, HAKLI mendesak Pemerintah Provinsi untuk meningkatkan kapasitas puskesmas dalam skrining dan penanganan dini penyakit pernapasan, serta menyediakan masker N95 gratis bagi masyarakat saat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai tingkat tidak sehat. Rekomendasi HAKLI juga menekankan pentingnya studi kohort jangka panjang untuk memantau perkembangan kesehatan anak-anak yang terpapar Kabut Asap kronis.
Dari sisi intervensi lingkungan, Rekomendasi HAKLI Jambi berfokus pada pencegahan Karhutla secara permanen melalui restorasi ekosistem gambut yang terdegradasi. HAKLI mengusulkan penguatan regulasi tentang tata kelola lahan yang melarang praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Selain itu, HAKLI merekomendasikan Pemda untuk menyediakan sarana air bersih yang memadai di wilayah rawan, karena kualitas air juga seringkali terganggu akibat hujan asam yang dihasilkan oleh Kabut Asap.
Secara keseluruhan, Rekomendasi HAKLI Jambi menekankan bahwa penanganan Kabut Asap adalah masalah kesehatan lingkungan, bukan hanya masalah kebakaran. Dengan menggunakan data kesehatan yang akurat sebagai dasar, dan menerapkan Rekomendasi HAKLI yang bersifat preventif dan restoratif, Jambi dapat melindungi warganya dari ancaman Kabut Asap dan membangun ketahanan lingkungan yang lebih baik di masa depan.