Bencana kebakaran hutan dan lahan yang rutin melanda beberapa wilayah di Indonesia tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan pernapasan yang serius, tetapi juga memberikan ancaman tersembunyi terhadap kualitas sumber daya hayati lainnya. Sebagian besar perhatian publik biasanya hanya tertuju pada kualitas udara yang memburuk, sementara risiko pencemaran pada sumber air seringkali luput dari pengawasan. Padahal, partikel abu dan zat kimia berbahaya yang terbawa oleh kabut tebal dapat jatuh dan masuk ke dalam ekosistem perairan, merusak keseimbangan kimiawi yang ada di dalamnya. Memahami dampak asap karhutla secara menyeluruh sangat penting untuk menyiapkan langkah mitigasi yang tepat demi melindungi kesehatan masyarakat secara luas.
Paparan debu sisa pembakaran yang jatuh ke permukaan sungai, waduk, dan sumur terbuka dapat mengganggu sistem sanitasi air yang dikonsumsi oleh warga sehari-hari. Partikel-partikel tersebut meningkatkan kekeruhan air dan dapat mengubah kadar keasaman (pH) tanah maupun air, yang pada akhirnya memengaruhi kelayakan air untuk diminum atau digunakan untuk keperluan domestik. Selain itu, endapan sisa kebakaran yang mengandung ssenyawa karbon dan polutan lainnya dapat meresap ke dalam lapisan tanah dan mencemari cadangan air tanah dalam jangka panjang. Jika air yang tercemar ini terus digunakan tanpa pengolahan yang memadai, risiko gangguan kulit dan penyakit pencernaan akan meningkat secara signifikan di tengah masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis ahli HAKLI Jambi, diperlukan pemantauan rutin terhadap parameter kimia dan fisik air di wilayah-wilayah yang terdampak kabut asap paling parah. Tenaga sanitarian menekankan pentingnya masyarakat untuk selalu menutup rapat wadah penampungan air dan sumur gali mereka selama masa bencana berlangsung. Selain itu, penggunaan filter air tambahan di tingkat rumah tangga sangat disarankan untuk menyaring partikel halus yang mungkin masuk ke dalam jaringan pipa. Edukasi ini menjadi sangat krusial di wilayah Jambi yang seringkali mengalami kondisi udara berbahaya akibat kebakaran lahan gambut yang memiliki karakteristik asap yang sangat pekat dan sulit hilang.
Tantangan dalam menjaga kebersihan air saat musim kemarau panjang yang disertai kebakaran lahan semakin berat karena debit air yang menyusut. Konsentrasi polutan di dalam air yang volumenya sedikit akan menjadi jauh lebih pekat dibandingkan saat musim hujan. Hal ini menuntut otoritas penyedia air bersih untuk meningkatkan sistem filtrasi dan desinfeksi mereka agar air yang didistribusikan tetap memenuhi standar kesehatan yang ketat. Masyarakat juga diimbau untuk lebih teliti dalam melihat perubahan warna, rasa, dan bau pada air sumur mereka, serta tidak ragu untuk melaporkan jika menemukan kondisi air yang mencurigakan kepada petugas kesehatan setempat.