Pesisir pantai Indonesia adalah salah satu ekosistem paling kaya, namun kini terancam oleh polusi yang tak kasat mata: mikroplastik. Ancaman Mikroplastik merujuk pada partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, yang berasal dari pecahnya sampah plastik yang lebih besar atau langsung dari produk kosmetik tertentu (microbeads). Ancaman Mikroplastik ini tidak hanya merusak biota laut, tetapi juga berpotensi memasuki rantai makanan manusia. Untuk memerangi bahaya tersembunyi ini, peningkatan Literasi Kritis di kalangan remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah intervensi edukatif yang paling mendesak.
Ancaman Mikroplastik semakin parah karena sifatnya yang sulit diuraikan dan mudah tersebar. Remaja, sebagai konsumen dan pengguna media sosial yang aktif, perlu Membongkar Rahasia bagaimana mikroplastik terbentuk dan memasuki ekosistem. Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diwajibkan mengintegrasikan materi ini ke dalam kurikulum lingkungan bagi siswa Kelas VIII. Dalam sesi praktikum, siswa diajak mengambil sampel air laut atau pasir pantai terdekat dan menganalisisnya di bawah mikroskop sederhana untuk memvisualisasikan partikel mikroplastik, sebuah pengalaman yang sangat efektif meningkatkan kesadaran.
Untuk Mencegah Cedera Dini pada ekosistem laut, Literasi Kritis harus didorong melalui kampanye aktif. Siswa diajarkan bagaimana membaca label produk kosmetik (seperti scrub) untuk mengidentifikasi keberadaan polyethylene atau polypropylene, yang merupakan bahan baku mikroplastik. Mereka juga dilatih untuk melakukan advokasi sederhana: mendesak toko atau warung di sekitar sekolah untuk berpartisipasi dalam Gerakan Diet Plastik.
Sebagai bagian dari Strategi Pemerintah Daerah dalam edukasi lingkungan, Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sering berkolaborasi dengan sekolah untuk mengadakan kegiatan coastal cleanup yang berfokus pada pengumpulan sampah yang berpotensi menjadi mikroplastik. Kegiatan ini biasanya diadakan setiap Hari Sabtu pertama di Bulan Konservasi Laut (Oktober). Data dari cleanup drive ini menunjukkan bahwa botol plastik dan kemasan sachet adalah sumber mikroplastik terbesar. Dengan memahami alur sebab-akibat ini, remaja didorong untuk mengambil peran aktif dalam Transformasi Zero Waste demi kelestarian lingkungan pesisir.